Senin, 09 April 2012

Biografi Al-Maghfurlah KH. Adlan Aly

Nama  lengkap beliau adalah Muhammad Adlan Aly, yang lahir pada tanggal 3 Juni 1900 Masehi diMaskumambang kecamatan Dukun sedayu kabupaten Gresik.Dan wafat tanggal 6 Oktober 1990 M.atau 17 Robiul awal 1411 H. yang kemudian di semakamkan di pemakaman pondok Tebuireng Jombang.
Konon di tengah–tengah Desa Sembungah kidul kecamatan Dukun ada hutan kecil yang kemudian di babat oleh KH. Abdul Djabbar dan didirikanlah sebuah rumah. Sedang beberapa tahun berikutnya beliau dengan istrinya Ibu Nyai Nur simah menunaikan ibadah haji. Setelah dua tahun berikutnya di Makkah kembali ke tanah air untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren. Dari hutan yang tidak di pelihara  menjadi daerah yang subur dan indah sebagai tempat mencari ilmu  seakan –akan emas yang mengambang karena daerah sekitarnya di liputi sungai, jadilah nama Maskumambang dari kata Emas dan Kambang (mengapung).


KH.Abdul; Jabbar lahir pada tahun 1241 H, yang ketika masih mudanya pernah belajar di pondok pesantren Ngelom sepanjang Sidoarjo, kemudian meneruskan ke pondok pesantren Tugu Kedawung  Pasuruan .Setelah dewasa di ambil menantu oleh KH.Idris Kebon Dalem Bourno Bojonegoro, mendapat putrinya yang bernama Nur Simah. Pada tahun 1325 H. atau 1907 KH. Abdul Djabbar menghadap Alloh SWT. Dalam usianya yang ke-84, di makamkan di desa Siraman kira-kira 700 meter dari Maskumambang. Pondok pesantren yang di tinggalkan di lanjutkan oleh putra-putri beliau terutama KH. Faqih . sedang putrinya nya,Ibu Nyai HJ. Muchsinah dengan KH.Aly mulai merintis mendirikan pondok pesantren di Maskumambang juga. Dari pasangan Ibu Hj.Muchsinah dengan KH.Adlan Aly  mulai merintis mendirikan piondok pesantren di Maskumambang juga .Dari pasangan Ibu Hj. Muchsinah dengan KH. Adlan Aly inilah yang lahir KH. Muhammad Adlan Aly yang bersaudarakan KH.Makhsum (yang terkenal dengan ahli ilmu falaq), H.M. Mahbub, Mus’idah Rohimah.
Diusia yang sudah mencukupi KH.M.Adlan Aly menikah dengan Ibu Nyai Hj. Romlah yang kemudian lahir dua putra dan dua putrinya Nyai Hj. Mustaghfiroh, KH. Ahmad Hamdan Adlan, Ibu Nyai Hj. Sholikhah dan KH. Abdul Djabbar. Dalam perjalanan pulang dari tanah suci Mekkah pada tahun 1939M, Ibu Nyai Romlah wafat  dan di makamkan di pulau We Sumatra. Sesampainya di rumah KH.M Adlan Aly di panggil oleh  Hadrotus Syeh KH. Hasyim Asy’ariyang bermaksu menjodohkan dengan keponakanya yang bernama Nyai Hj. Halimah. Kurang lebih selama 40 tahun beliau menjadi istri KH.M. Dahlan Aly dan wafat pada tahun 1982 M. kemudian Romo Kyai menikah dengan Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah Ahmad seorang Ustadzah dari desa keras Diwek  Jombang pada tahun 1982 M. Delapan tahun berikutnya Romo Kyai berpulang ke Rahmatulloh.
           Baik dengan Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah, KH.M. Adlan Aly tidak di karuniai putra-putri.

KH.M.ADLAN ALY SEMASA PENJAJAHAN BELANDA

KH.M.Dahalan Aly semenjak kecil kurang lebih berusia 5 tahunbelajar agama Islam kepada pamannya yaitu KH.Fariq di pondok pesantren Maskumambang ,setelah berusia 14 tahun beliau belajar menghafal Al-Qur’an kedapa KH.Munawar Kauman Sedayu Gresik.Empat tahun kemudian beliau mengikuti kakaknya mondok di pesantren jombang .Setelah KH.Ma’shum Aly mendirikan pondok sendiri, yaitu pondok pesantren Seblak Diwek Jombang, KH.M.Dahlan Aly ikut pindah kesana walau tetap menuntut ilmu di Tebuireng.
Ketika H.M.Mahbub Aly membuat rumah di Cukir dan membuka toko kitab di muka pasar Cukir, KH.M.Adlan Aly diminta membantu kakaknya mengurusi toko.
    Selama di Cukir sekitar tahun 1926M. beliau bersama KH.Abdul Karim Gresik dan H.Sufri di panggil oleh Hadratus Syekh KH.Hasyim Asy’ari untuk membentuk  Pengurus  Ranting NU Diwek.                                                                                                                                                   

KH.M.ADLAN ALY PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG dan PASCANYA

KH.M.Adlan Aly bersama H.sufri aktif mengurus Mabarrot NU, yaitu membantu keluarga NU yang kena wajib  Romusha, dimana pada masa penjajahan jepang ini banyak pemuda yang dijadikan Romusha.Sementara keadaan ekonomi masyarakat serba kekurangan,baik makan maupun pakaian.Bahkan Romo Kyai pernah diambil Jepanguntuk Romusha dan semoat hilang selama empat hari,namun Alahmdulillah kembali lagi kerumah beliau.
Pasca Proklamasi 1945, tentara Belanda dengan membonceng tentara Inggris masihb ingin menjajah kembali , maka aktiflah beliau mengikuti barisan Sabilillah,juga ikut perang di Front garis depan sekitar sepanjang untuk membendung tentara Belanda yang bermaksud mengadakan terobosan keluar daerah Surabaya.
Disamping itu beliau menghimpun dana dari masyarakat agar mampu mencukupi persenjataan Hisbullah dan Sabilillah.
Kemerdekaan telah sepenuhnya dimiliki bangsa kita,beliau mulai memikirkan masalah pendidikan.Diketahui banyak anak putri tamatan Madrasah Ibtidaiyyah tidak dapat melanjutkan belajar keluar daerah karena keterbatasan biaya ,dimana khususnya daerah Cukir dan sekitarnya belum ada sekolah lanjutan setingkat SLTP dan SLTA .Akhirnya diadakan musyawarah dan sepakat mendirikan Madrasah Mu’allimat Cukir.karena kedatangan siswa-siswi dari luar, maka di bangunkanlah asrama di belakang rumah beliau.
Sebagai insan yang mempunyai jiwa pejuang ,maka beliau berjuang demi tanah air dan demi agama .Hal ini tercermin pada jabatan yang pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka, antara lain :

  1. Rois Syuriah NU wilayah Jawa Timur
  2. Mustasyar NU wilayah Jawa Timur
  3. A’wan  Pengurus Besar NU
  4. Rois Syuriah cabang NU kabupaten Jomabang
  5. Anggota DPRD-II Kabupaten Jawa Timur ,hasil  pemilu  tahun 1987 fraksi Partai Persatuan Pembangunan bersama  K.H Syamsuri Baidlawi.

Selain itu beliau pernah menjadi Rois Am Jami’iyayah Ahliath-Thariqah Al –Mu’tabarah An-Nadiyyah pada Idaroh Aliyah ,Wusthan  Idaroh Syu’biyyah jomabang ,sekaligus menjadi Al-mursyid ath-Thariqah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar